POLITIK PENDIDIKAN
PENDIDIKAN SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN IPTEK
Ahmad kosasi

A.    Pendahuluan
Dewasa ini umat manusia berada didalam transformasi sosial yang sangat cepat. Transformasi sosial ini terjadi didalam seluruh aspek kehidupan manusia yaitu bukan saja pada aspek kehidupan ekonomi dengan adanya perdagangan bebas, akan tetapi juga didalam aspek kehidupan politik dan budaya. Transformasi sosial ini terutama didorong oleh adanya pengembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, khususnya perdagangan bebas sesudah perang dingin usai.
Bila kita tidak menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang paling bodoh di ASEAN dan Asia timur, maka kitapun harus meningkatkan kualitas dunia pendidikan. Setiap orangpun tahu, ini sudah diamanatkan didalam muqodimah UUD 45 tentang tugas kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, bahwa antara lain seluruh gugusan pengajaran disekolah-sekolah kita harus ditingkatkan. Kesulitan disetiap sistem sekolah disetiap negara manapun ialah, bahwa kemajuan masyarakat, khususnya seluruh kompleks sains dan tekhnologi, industri, bisnis dari rekayasa usaha disegala bidang jauh lebih cepat melaju daripada yang mungkin apa yang dikurikulumkan. Semua kurikulum apalagi dinegara-negara yang berpendudukan yang sangat banyak, selalu menghadapi kesulitan permanen bahwa metodenya selalu ketinggalan dari apa yang objektif dan dari yang seharusnya dikomunikasikan kepada murid-murid. Apalagi dengan datangnya jaringan-jaringan informasi lewat internet, TV dan segala bentuk sistem komunikasi canggih serta mobilitas murid-murid. Memang kita harus berani melaut dengan layar dan dayung apa adanya.
Namun walau bagaimanapun kita perlu bertanya, apa yang masih dapat kita  lakukan dalam situasi yang serba melaju dengan cepat dengan sekian revolusi penemuan informatika serta bahan-bahan ilmu pengetahuan yang begitu luas dan cepat sekali memanjakan diri.[1] Disinilah kami kira peran lembaga pendidikan sangat penting, dimana lembaga pendidikan harus merespon dengan cepat atas perubahan-perubahan yang terjadi, bagaimana lembaga pendidikan meningkatkan aspek kualitas tak hanya pada kuantitas. Kualitas pengajaran (dan yang lebih sulit, pendidikan) harus benar-benar ditingkatkan, sehingga menghasilkan Out put yang tangkas dan terampil serta bermental siap dalam menghadapi segara perubahan dalam bentuk apapun; tangkas terampil untuk menyesuaikan diri.

B.     Pendidikan Dan Perkembangan Tekhnologi
Ada beberapa makna tentang makna tekhnologi, antara lain
Ilmu merupakan studi tentang bagaimana benda-benda natural serta fenomena alam bisa terjadi. Sedangkan tekhnologi adalah penerapan ilmu; atau sesuatu yang membuat benda menjadi lebih baik dan berguna, atau peralatan yang dipakai manusia untuk memodifikasi lingkungan naturalnya.[2] Sedangkan menurut Nana Syaodih; tekhnologi adalah alat untuk membantu mempermudah manusia dalam menjalani kehidupannya.[3] Menurut Maurice Adelman, tekhnologi ialah suatu proses disiplin (disciplined process) yang mempergunakan ilmu, material dan SDM untuk mencapai tujuan yang diinginkan manusia.[4]
Dalam perkembangannya, tekhnologi mengalami perkembangan dari masa-kemasa, dan dapat diklasifikasikan antara lain;
1.      Tekhnologi Batu (1000.000.-3000 SM). Dimulai dari ditemukan dan lalu dipakainya system penyalaan api.
2.      Tekhnologi Perunggu (3000-1200 SM). Dimulai dari tekhnologi pembuatan peralatan beragam barang termasuk roda kincir dari perunggu.
3.      Tekhnologi Besi (1200 SM-1956 M) dimulai dari peleburan besi guna membuat peralatan bajak di sawah.
4.        Tekhnologi Elektronik (1752-sekarang). Dimulai dari percobaan lampau listrik oleh Benjamin Franklin.
5.      Tekhnologi Permesinan (1769-sekarang). Dimulai dari ditemukannya tekhnologi mesin uap oleh James Watt.
6.      Tekhnologi Informasi (1920-Sekarang). Dimulai dari disiarkannya system radio komersial di Pittsburg Amerika Serikat, dan pada tahun 1956 saat berhasil direkam secara audio visual pelantikan presiden Amerika Serikat[5].
Tekhnologi dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan seperti di rumah (informal), kursus (nonformal), serta di sekolah dan perguruan tinggi (Formal). Selanjutnya hasilnya dipraktekan di lapangan, baik untuk mendukung kerja/profesi maupun untuk mengembangkan lebih lanjut tekhnologi itu sendiri.

C. Cermin Sistem Pendidikan Indonesia.
Milinium ketiga atau atau lebih dikenal sebagai era globalisasi memberikan banyak harapan, tetapi juga sejumlah tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang akan dihadapi oleh setiap manusia dimuka bumi ini tanpa terkecuali.
Berbagai analisa para ahli telah menyajikan dan mengidentifikasikan kekuatan global tersebut yang pada umumnya bertumpu pada empat kekuatan global;
1.      Kemajuan IPTEK terutama dalam bidang informasi serta inovasi-inovasi baru dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia.
2.      Perdagangan bebas yang ditunjang kemajuan IPTEK
3.      Kerjasama regional dan internasional yang telah menyatukan kehidupan berusaha antar bangsa-bangsa tanpa mengenal batas-batas negara.
4.      Meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia didalam kehidupan bersama, dan sejalan dengan itu semakin meningkatnya kesadaran bersama dalam alam demokrasi[6]
Menyoroti Problematika pendidikan di Indonesia dewasa ini jelas bukan persoalan yang sederhana. Untuk itu diperlukan data yang akurat. Padahal sangat sulit sekali untuk memperoleh data yang akurat, kesalahan data dapat membuat kesalahan analisis, yang pada akhirnya pembicaraan inipun menjadi tidak relevan.
Namun demikian, masalah pendidikan bukan masalah yang berdiri sendiri. Pendidikan dapat dinyatakan sebagai “persimpangan jalan” antara perkembangan sosial budaya, termasuk didalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan bukan sesuatu yang bebas. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Ia dapat memberi, tetapi sekaligus dapat menerima. Ia dapat menghasilkan tetapi juga dihasilkan. Oleh kerana itu, didalam pendidikan ada kecenderungan tidak hanya terbatas untuk menghasilkan prilaku individual kekomunal. Secara garis besar, didalam pendidikan kini sudah mulai dipersoalkan;
1.      Apakah yang dapat diperbuat oleh manusia terhadap manusia yang lain.
2.      Apakah yang dapat diperbuat oleh manusia terhadap generasi
3.      Apakah yang dapat diperbuat oleh manusia terhadap lingkungan
4.      Apakah yang dapat diperbuat oleh manusia terhadap terwujudnya teknologi[7]
Dari dimensi inilah pendidkan menghadapi tantangan  yang semangkin berat, semuanya terhimpun dalam pendidikan, apabila tidak tercapai hasil yang diinginkan maka kita perlu meninjau ulang dari pendidikan kita. Dalam makalah ini objek yang akan ditekankan adalah pada aspek IPTEK di Indonesia. Sudahkah lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia membenahi persoalan-persoalan pendidikan sehingga mampu menjadi media bagi pngembangan IPTEK.
Dalam pembenahan persoalan-persoalan pendidikan Indonesi, disamping faktor-faktor nilai dasar, hakikat atau software pendidikan, seperti undang-undang sistem pendidikan nasional, tujuan, arah dan strategi pengembangan, tertuju kepada hard ware (sarana dan prasarana) dan human ware (Sumber daya mannusia), Pendidikan nasional yang saling bersinergi. 
Cita-cita ideal untuk menjunjung tinggi dan memuliakan pendidikan nasional tidak akan terwujud manakala ketiga faktor diatas tidak diberdayakan atau direformasi secara bersamaan. Cerita tentang betapa baiknya soft ware pendidikan akan sia-sia saja apabila pada implementasinya tidak didukung dengan hard ware yang memadai. Demikian halnya cerita tentang betapa “megah” dan canggihnya hard ware pendidikan yang disediakan, akan kehilangan makna, apabila human ware pendidikannya diisi dan dipenuhi oleh orang-orang yang “hidup segan matipun tak mau”(Ogah-ogahan). Lalu dilanjutkan pada tahap-tahap pembenahan serta pembaharuan-pembaharuan infra struktur atau hard ware pendidikan, karena tanpa ini, cita-cita pemberdayaan pendidikan nasional akan menjadi omong kosong belaka. Hard ware pendidikan adalah berupa perangkat-perangkat keras yang mendukung bagi terjadinya proses belajar mengajar yang baik.[8]
 Menurut Mochtar Buchori, setiap bangsa atau masyarakat yang ingin memperhatikan serta mengembangkan eksistensinya dituntut membuat sistem pendidikan yang dimilikinya menjadi lebih dinamis dan responsif terhadap perubahan-perubahan serta kecenderungan yang sedang berlangsung.[9] Hal ini berarti bahwa dalam zaman yang sudah berubah dengan cepat ini sistem penddikan kita dituntut untuk memiliki tiga kemampuan, yaitu:
1.      Kemampuan untuk mengetahui pola-pola perubahan dan kecenderungan yang sedang berlangsung
2.      Kemampuan untuk menyusun gambaran tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang sedang berlangsung.
3.      Kemampuan menyusun program-program penyesuaian diri yang akan ditempuh dalam jangka waktu tertentu, katakanlah jangka waktu lima tahun.[10]
Kegagalan untuk mengembangkan ketiga jenis kemampuan diatas akan berakibat, bahwa suatu sistem pendidikan akan terperangkap oleh “rutinisme”, bahwa sesuatu sistem pendidkan akan “membatu” atau menjadi fosil. Dan kalau keadaan semacam ini di biarkan berlangsung, maka yang akan dirugikan adalah diri bangsa itu  sendiri terutama generasi mudanya.
 Mochtar berpandangan bahwa perlu adanya kegiatan-kegiatan penelitian pendidikan di Indonesia dan mengadakan pengarahan ulang (redirection) terhadap penelitian tersebut. Dengan demikian mencegah penyakit “konservatisme” kedalam sistem pendidikan kita. Pengarahan ulang terhadap penelitian pendidikan harus mencakup perubahan-perubahan sebagai berikut.
a.       Perluasan daerah cakupan penelitian pendidikan, sehingga penelitian pendidikan tidak hanya menggarap masalah belajar-mengajar (masalah-masalah pembelajaran) saja. Tetapi juga membahas masalah-masalah pendidikan yang bersumber pada perubahan-perubahan ekonomi, sosial, kultural, teknologi baik yang bersifat regional, nasional, maupun global.
b.      Perluasan kerangka acuan (framee of reference) bagi penyusunan agenda penelitian pendidikan, sehingga terbentuk titik-titik persentuhan (contact points) yang cukup kuat antara pemikiran tentang masalah-masalah pendidikan pada satu pihak dengan pemikiran-pemikiran mengenai perubahan-perubahan sosial-ekonomi, transformasi kultural, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi pada pihak yang lain;
c.       Memperluas time-frame  bagi persoalan-persoalan pendidikan yang akan diteliti, sehingga penelitian pendidikan di Indonesia tidak terpaku pada masalah-masalah pendidikan pada masa kini saja, tetapi juga mampu menelusuri akar-akar historis  dari persoalan-persoalan pada masa lalu, dan mampu pula melakukan penjagaan mengenai situasi-situasi problematik di masa depan.

D. Urgensitas Pengembangan IPTEK
Hampir bisa dipastikan bahwa abad 21 tetap merupkan abad saintifik-teknological, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi memegang peranan penting dan menjadi paktor dominan dalam kebudayaan dan peradaban manusia. Seperti apa yang dikatakan Azyumardi Azra;
Tanda-tanda dominasi IPTEK cukup jelas kelihatan, misalnya dalam proses globalisasi informasi dan nilai-nilai melalui berbagai produk kemajuan teknologi informasi mutakhir seperti satlit komunikasi, atau  internet yang kian terus mengglobal, atau jaringan TV dengan berbagi program terdifersifikasi-ingat  CNN, MTV, Discovery Channel, HBO, dan seterusnya, yang tanpa dapat dihalangi melintasi batas-batas geografis. Di negeri kitra apakah secara berlangganan melalui jaringan “TV kabel” untuk menangkap tayangan yang sudah di acak, atau melalui parabola yang menyebar sampai kedesa-desa terpencil guna menangkap siaran tidak acak, orang-orang dengan bebas dapat menikmati medium-medium globalisas.[11]

Tak ragu lagi kemajuan IPTEK seperi itu mendorong munculnya berbagai perubahan, atau bahkan transformasi kebudayaan manusia secara keseluruhan. Pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  cukup luas, meliputi semua aspek kehidupan, politik ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, etika dan estetika, bahkan keamanan dan ilmu pengetahuan itu sendiri[12].
 Banyak pengharapan masyarakat terhadap pengembangan Imu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia, apakah IPTEK yang dikembangkan akan mampu mengabdi pada manusia Indonesia, atau menjadi solusi terhadap problem pengangguran, atau IPTEK tersebut akan mampu mengangkat martabat bangsa kita dalam pergaulan antar-bangsa serta mengejar ketertinggalannya. 
Sungguh tidak mudah untuk memenuhi harapan diatas, pemenuhan aspirasi nasionalistik dalam pengembangan IPTEK ini bergantung pada beberapa hal, antara lain:
-          Kesiapan komunitas pakar-pakar IPTEK dari generasi dewasa ini beserta  institusi-institusi mereka untuk terjun dan berpacu dalam pergaulan ilmiah internasional.
-          Kesiapan sistem pendidikan kita untuk membimbing bibit pakar dalam generasi muda secara efisien dan sistematis menurut ukuran-ukuran mutakhir.
-          Kesiapan kultural masyarakat kita pada umumnya untuk menghadapi dan menanggapai perubahan serta kemajuan yang terjadi secara global dalam IPTEK dengan sikap dewasa.
Apa yang dapat disumbangkan oleh sistem pendidikan kita untuk turut meningkatkan berbagai kesiapan ini? Sanggupkah sistem pendidikan kita membekali generasi muda dengan pengetahuan, wawasan, serta sikap yang seimbang antara ilmu kemanusian, ilmu sosial, serta ilmu pengetahuan alam dan teknolgi?
Tingkat ilmu pengetahuan (sains)dan teknologi (IPTEK) yang dicapai dalam suatu bangsa biasanya dipakai sebagai tolok ukur kemajuan bangsa tersebut. Apalagi dimasa dewasa ini (abad 21), kemajuan suatu bangsa dan negara sangat ditentukan oleh kemapanan sumber daya manusia yang dimiliki suatu bangsa dan negara itu dalam menguasai IPTEK.

E. Ikhtiar Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi lewat Pendidikan..
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tidak berarti harus mencari dan menemukan sendiri serta harus memulai dari awal. Apabila cara itu ditempuh, maka akan banyak waktu yang terbuang dan kita akan semakin sulit mengejar ketertinggalan. Cara yang paling tepat dan memungkinkan untuk mengejar ketertinggalan adalah lewat transformasi teknologi. Transformasi tekhnologi merupakan suatu proses pengalihan, penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara teratur.[13] Oleh karena itu dunia pendidikan adalah merupakan sarana yang paling tepat dalam pengembanagan IPTEK.
Ilmu Pengetahuan Alam (sains) termasuk mata pelajaran yang harus ditekuni dan dikuasai oleh para pemuda (siswa dan mahasiswa) dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena sains merupakan pondasi teknologi. Keterkaitan sains, teknologi, dan masyarakat semakin lama semakin terasa, sehingga di Amerika serikat di tahun 80-an dikembangkan pendidikan IPA melalui pendekatan Science-Technology-Society (STS). Suatu proyek besar yang di biayai oleh NSF (the National Science Foundation) dan didukung oleh persatuan guru-guru IPA (the National Science Teacher Association).[14]
Program STS mempunyai ciri khusus antara lain sebagai berikut:
1.      Difokuskan pada masalah dan isu sosial di masyarakat karena IPA tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat.
2.      Dilaksanakan menurut strategi pembuatan keputusan. Setiap orang harus mempergunakan informasi sebagai bukti, baik untuk mencapai keputusan tentang kehidupan sehari-hari maupun mencapai keputusan tentang masa depan masyarakat.
3.      Tanggap terhadap kesadaran akan karir di masa depan.
4.      Sejalan dengan masyarakat dan lingkungan setempat. IPA harus sejalan dengan setiap lingkungan yang semakin berbeda.
5.      Penerapan IPA dalam teknologi dapat membawa kepada pertimbangan IPA sebagai pengetahuan murni.
6.      Difokuskan pada kerjasama untuk menghadapi masalah nyata yang ditujukan pada cara pemecahan masalah.
7.      Penekanan pada dimensi IPA yang lebih beraneka ragam.
8.      Evaluasi ditujukan kepada kemampuan untuk memperoleh dan mempergunakan informasi.
Implikasi STS terhadap pendidikan IPA di SD, SLTP, SLTA adalah, dimana pendidikan IPA di SD hendaknya menjadi bagian integral dari program pendidikan SD. Kurikulum IPA di SLTP hendaknya dirancang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Kurikulum IPA di SLTA hendaknya mampu membuat siswa untuk selanjutnya mengembangkan “melek” IPTEK.
Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimanakah kondisi pendidikan IPA di negara kita? Umumnya kita sudah mengetahui didalam kurikulum 1994 terdapat muatan lokal yang diberi porsi  lumayan. Ini sesuai dengan GBHN 1993 yang menyatakan bahwa “Kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis dengan memperhatikan kepentingan dan kekhasan daerah serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.”[15] 
Pendidikan IPA, sebagaiman telah diuraikan dimuka, memiliki dimensi yang luas. Pendekatan STS di Amerika berupaya menyatukan kepentingan tiga unsur yaitu sains, teknologi, dan masyarakat. Sedangkan pendidikan IPA di Indonesia ditekankan kepada upaya penyiapan kader-kader pembangunan IPTEK yang tangguh untuk masa yang akan datang dengan memperhatikan nilai-nilai sosial, budaya, etika, moral dan agama. Dengan demikian, penilaian pendidikan IPA mencakup ruang lingkup yang luas pula. Dan bila kita meninjau konteks pendidikan formal sebagai suatu sistem. 
Dari uraian-uraian diatas kita dapat menilai apakah kurikulum yang diterapkan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia masih relevan atau tidak dengan kondisi dan tuntutan zaman. Jika dilihat dari aspek kurikulum pendidikan kita kita masih harus banyak bekerja untuk membenahinya, sebab kurikulum yang tidak sesuai dengan kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang tentu akan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap calon-calon penganggur pada masa yang akan datang. Kurikulum dalam bahasan ini bukan hanya kurikulum dalam arti sempit, berupa daftar mata pelajaran yang harus diajarkan kepada para peserta didik. Kurikulum yang dimaksudkan dalam makalah ini meliputi kurikulum dalam arti luas, yaitu kurikulum sebagai produk, sebagai program, sebagai kegiatan belajar, dan sebagai pengalaman belajar.[17] 


F. Kesimpulan
Dari pembahasan  diatas dapat ditarik kesimpulan
1. Ada dua fungsi yang perlu dilakukan oleh sistem pendidkan guna menopang usaha nasioanal dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
 a. Mempersiapkan bangsa untuk memungkinkan pelaksanaan usaha pengembangan Ilmu Pengetahuan  dan Teknologi yang sesuai dengan aspirasi nasioanal
b. Mempersiapkan bangsa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dilahirkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Pengembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat urgen sekali dalam rangka beradaptasi dengan dunia luar serta untuk menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah.
3. Dalam rangka pengembangan IPTEK, sangat dibutuhkan pendidikan yang relevan. Seperti penelitian pendidikan IPA, sebab IPA mempunyai peranan yang sangat strategis yaitu membudayakan sains dikalangan siswa agar mereka tertarik kepada sains, sehingga mereka mau mempelajari secara tuntas (tidak hanya teori).



Daftar Pustaka


Azra, Azyumardi, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi (Jakarta: Kompas, 2002).

Bastian, Aulia Reza, Reformasi Pendidikan (Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama, 2002).

Buchori, Mochtar, Pendidikan dalam Pembangunan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994).

Djohar MS., Reformasi dan Masa Depan  pendidikan di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, tt).

Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek (Bandung:       Rosdakarya, 2001)

Habibi, B.J., Beberapa Pemikiran Tentang StrategiTransformasi Industri Suatu Negara Yang Sedang Berkembang (Jakarta: Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, 1983).
Hidayat, Eddy Muhammad, Science-Technology-Society: Pendidikan Sains untuk Tahun 2000,”Jurnal Pendidikan, No.5 Edisi Khusus Jurnal Penddikan IPA Himpunan Sarjana Pendidkan IPA Indonesia (Jakarta: Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia,1991).

Jiyono, Cara Mengukur Mutu Pendidikan, Analisis Pendidikan I (Jakarta: Pusta,1980)

Sumaji Dkk, Pendidikan Sains Yang Humanis (Yogyakarta:Kanisius, 1998).

Tilaar, H.A.R., Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi (Jakarta: Grasindo, 1997).




[1] Sumaji Dkk. Pendidikan Sains Yang Humanis (Yogyakarta:Kanisius, 1998), hlm 16.
[2] Ki Supriyoko, Pendidikan Sebagai Metode Pengembangan Ilmu dan Tekhnologi, (Makalah sessi ke-09) hlm.1
[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek (Bandung: Rosdakarya, 2001) hlm 70
[4] Supriyoko, Pendidikan..,
[5] Ibid., hlm 71

[6] Lihat H.A.R. Tilaar, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi (Jakarta: Grasindo, 1997), hlm. 40-130
[7] Djohar MS. Reformasi dan Masa Depan  pendidikan di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, tt), hlm.13
[8] Lihat Aulia Reza Bastian, Reformasi Pendidikan (Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama, 2002). Hlm.70.
[9] Mochtar Buchori, Pendidikan dalam Pembangunan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994), hlm.44.
[10] Ibid. hlm.45.
[11] Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Rekonstruksi dan Demokratisasi (Jakarta: Kompas, 2002), 191.
[12] Lihat  Sukmadinata, Pengembangan.. 72
[13] B.J. Habibi, Beberapa Pemikiran tentang strategiTransformasi Industri Suatu Negara yang sedang berkembang (Jakarta: Kantor Mentri Negara Riset dan Teknologi, 1983), hlm18
[14] Eddy Muhammad Hidayat, Science-Technology-Society: Pendidikan Sains untuk Tahun 2000,”Jurnal Pendidikan, No.5 Edisi Khusus Jurnal Penddikan IPA Himpunan Sarjana Pendidkan IPA Indonesia, (Jakarta: Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia,1991), hlm 31.
[15] Lihat Sumaji, Pendidikan..hlm. 33-36.
[16] Jiono, Cara Mengukur Mutu Pendidikan, Analisis Pendidikan I (Jakarta: Pusta,1980), hlm 45
[17] Suyanto, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2000), hlm. 61. Lihat juga J.A. Beane and Toepter, Curiculum Planning and Development (Boston:Houghthon  Miflia,1960), hlm 29-32
0 Responses

Posting Komentar

TV GUE