inovasi pembelajaran

TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK KEBERHASILAN 
DAN PERBAIKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN



A. PENDAHULUAN
Membentuk manusia berkualitas tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Memang langkah yang paling tepat dalam membentuk manusia berkualitas adalah melalui jalur pendidikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan sangat penting bagi ikhtiar membangun manusia berkualitas yang ditandai dengan peningkatan kecerdasan, pengetahuan dan ketrampilan. Pendidikan juga mempunyai peranan sentral dalam mendorong individu dan masyarakat untuk mencapai kemajuan pada semua aspek kehidupan dan akhirnya akan dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan suatu bangsa sebagai salah satu investasi yang tidak ternilai. Kita mengakui bahwa pendidikan akan dapat menciptakan manusia kerkualitas, namun yang menjadi pertanyaannya adalah pendidikan yang bagaimana yang dapat membentuk manusia berkualitas?, apakah pendidikan yang hanya berorientasi pada formalitas yang dapat menjawabnya, atau pendidikan yang tidak hanya sekedar formalitas.
Kunci keberhsilan pendidikan salah satunya adalah terletak pada kemampuan mengajar seorang guru. Kegiatan pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan siswa, oleh karena itu seorang guru di tuntut untuk menguasai berbagai tekhnik pembelajaran yang efektif. Salah satunya adalah teknik mendapatkan umpan balik dari siswa, serta kemampuan mengukur sejauhmana keberhasilan guru dalam proses pembelajaran serta mengetahui cara perbaikannya bila ada hal-hal yang dianggap kurang sesuai dengan rencana pembelajaran. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah cara melakukan teknik mendapatkan umpan balik?, sejauhmanakah keberhasilan pembelajaran? Dan Bagaimanakah melaksanakan program perbaikan dalam proses pembelajaran?

B. TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK  DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi antara guru dan murid untuk mencapai tujuan. Suatu tujuan pembelajaran yang terjadi karena usaha guru, sering dinamakan instructional effect, biasanya berupa pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan tujuan yang merupakan pengirirng karena usaha atau potensi murid, seperti faktor kecerdasan, berfikir kritis dan kreatif, disebut nurturant effect. Kegiatan dua fihak tersebut memberikan umpan balik, bagi guru maupun bagi murid. Umpan balik yang diberikan oleh murid selama pembelajaran ternyata sangat beragam, baik kuantitas maupun kualitasnya, tergantung dari rangsangan yang diberikan oleh guru.
Segala potensi yang dimiliki anak, baik secara individual maupun kelompok, perbedaan latar belakang sosio-kultural, cara belajar anak dan pengetahuan awal yang dimiliki anak, merupakan informasi yang dapat memberikan umpan balik bagi guru. Jadi pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan bisa dijadikan bahan apresiasi bagi guru untuk menghubungkan materi berikutnya dan dijadikan alat memotivasi anak untuk memperhatikan bahan lanjutan. Maka usaha demikian merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam proses pembelajaran. Untuk mendapatkan umpan balik secara lebih sempurn, maka guru dapat melakukan beberapa teknik antara lain :
Pertama, menggunakan alat bantu yang tepat. Alat ini berfungsi untuk melengkapi kekurangan guru yang memiliki keterbatasan kemampuan dalam menjelaskan bahan ajar yang disebabkan karakteristik materi, kebiasaan guru dan cara belajar anak didik. Guru yang menyadari kelemahan dirinya dalam menjelaskan isi dari bahan pelajaran yang disampaikan sebaiknya memanfaatkan alat bantu untuk memperjelas isi dari bahan yang menyangkut fakta, konsep, atau prinsip yang kurang dapat dijelaskan lewat kata-kata atau kalimat dalam metode ceramah. Dengan begitu, kelemahan metode ceramah dapat teratasi oleh penggnaan alat Bantu yang cocok untuk mengkonkritkan masalah rumit dan kompleks menjadi seolah-olah sederhana.
Kedua,  memilih bentuk motivasi yang baik. Menurut Bobbi dePorte dkk (2000) terdapat beberapa cara untuk menumbuhkan budaya belajar berprestasi, dalam rumus TANDUR, yakni :
Ø  Tumbuhan. Tumbuhkan minat dengan memuaskan. Apa manfaatnya bagiku dan manfaatkan kehidupan siswa.
Ø  Alami. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa ;
Ø  Namai. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, dalam setiap kegiatan pembelajaran;
Ø  Demontrasikan. Sediakan kesempatan bagi anak didik untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, jangan biarkan anak menjadi pendengar pasif ;
Ø  Ulangi. Tunjukkan pada anak didik cara-cara mengulang materi dan tegaskan bahwa mereka adalah murid-murid yang cerdas, jangan dikecam. Sebab kecaman guru merupakan proses pembodohan yang terjadi secara disengaja;
Ø  Rayakan. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Guru jangan kikir dengan pujian anak.
Ø  Mempertahankan minat dan motivasi anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan bisa dalam bentuk lain seperti :
·         Memberikan angka. Angka merupakan symbol prestsi yang diperoleh siswa.
·         Beri penjelasan pada anak bahwa prestasi belajar dapat terpresentasikan dalam       symbol angka.
·         Hadiah. Hadiah merupakan pengakuan atas prestasi anak didik yang dapat diberikan dalam bentuk fisik ( cinderamata, piagam ) atau non-fisik seperti isyarat positif, pujian dll.
·         Gerakan tubuh. Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaikkan tangan dan lain-lain.
·         Memberi tugas. Tugas yang diberikan bukan tugas tambahan, tetapi tugas pengakuan atas prestasi agar anak didik merasa percaya diri dan merasa diakui.
·         Memberi ulangan. Ulangan merupakan alat untuk menunjukkan prestasi belajar anak didik dan sebaiknya hasil ulangannya diumumkan pada teman-temannya.
·         Hukuman. Hukuman bukan alat untuk menakut-nakuti anak, tetapi untuk merubah cara berfikir anak. Bahwa setiap pekerjaan (baik atau buruk) memiliki konsekuensi.
Ketiga, penggunaan metode yang bervariasi merupakan senjata yang ampuh untuk mendapatkan umpan balik pembelajaran. Karean itu, guru mesti cerdas memilih, menentukan dan menggunakan metode dalam pembelajaran. Jangan menggunakan satu netode untuk semua tujuan atau memakai banyak metode tanpa tujuan. Pergunakan metode secara tepat.

C. KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN
Belajar merupakan proses aktivitas yangmemiliki keterukuran secara jelas. Ukuran keberhasilan belajar dalam pengertian yang operasional adalah penguasaan suatu bahan ajar yang dinyatakan (TPK) tujuan pembelajaran khusus dan memiliki kontribusi bagi tujuan diatasnya.
  1. Indikator Keberhasilan Proses Pembelajaran.
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses pembelajaran merupakan sebuah ukuran atas proses pembelajaran. Apabila merujuk pada rumusan operasional keberhasilan belajar, maka belajar di-katakan berhasil apabila diikuti cirri-ciri : (1) Daya serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok; (2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran khusus ( TPK ) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok; (3) Terjadinya proses pemahaman meteri yang secara sekuensial  mengantarkan materi tahap berikutnya.
   Ketiga cirri keberhasilan belajar diatas, bukanlah semata-mata keberhasilan dari segi kognitif, tetapi mesti melumat aspek-aspek lain, seperti aspek afektif dan aspek psikomotor. Pengevaluasian salah satu aspek saja akan menyebabkan proses pembelajaran kurang memiliki makna yang komprehensif.
  1. Alat penilaian Keberhasilan Proses Pembelajaran.
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat dilakukan melalui test prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan pada beberapa jenis penilaian, yakni : tes formatif, sub sumatif dan sumatif.
Tes formatif. Tes formatif digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki proses pembelajaran  pada bahan tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
Tes sub-sumatif, tes sub-sumatif meliputi sejumlah bahan pelajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa agar meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Hasil tes sub-sumatif dapat dimanfaatkanuntuk memperbaiki proses pembelajaran dan diperhitungkan dalam menentukan nilai raport.
Tes sumatif. Tes sumatif diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu smester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau tarap keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat atau sebagai ukuran mutu sekolah.
  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Proses Pembelajaran
Keberhasilan belajar bukanlah yang berdiri sendiri, melainkan banyak yang di pengaruhi oleh factor-faktor lainnya. Berbagai factor dimaksud diantaranya adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pembelajaran dan evaluasi.
1.      Tujuan
Tujuan merupakan muara dan pangkal dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, tujuan menjadi pedoman arah dan sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan proses pembelajaran. Kepastian proses pembelajaran berpangkal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pembelajaran. Semakin jelas operasional dan tujuan yang akan dicapai, maka semakin mudah menentukan alat dan cara mencapainya, dan sebaliknya. 
2.      Guru
Performance guru dalam membelajarkan siswa banyak dipengaruhi berbagai factor seperti tipe kepribadian, latar belakang pendidikan, pengalaman, dan yang tek kalah pentingnya berkaitan demgan pandangan filosofis guru terhadap murid. Pandangan guru terhadap anak didik mempengaruhi kegiatan mengajar guru di kelas. Guru yang memandang anak didik sebagai makhluk individual yang tidak memiliki kemampuan atau laksanan kertas kosong akan banyak menggunakan metode yang teacher centered, bukan pendekatan yang student centered.  Sebab, murid dipandangnya sebagai gelas kosong yang bisa diisi apapun. Pendekatan ini sering disebut sebagai proses  pouring in, penuangan terhadap sesuatu denga segala sesuatu. Padahal yang terpenting bagi guru adalah mengetahui anak didik dengan segala potensi dan kekuatannya sehingga guru cukup melakukan proses drawing out, yakni proses mengeluarkan, membimbing, memotivasi keluarnya berbagai potensi yang ada pada anak didik menjadi kekuatan belajar dan faktual. Demikian pula factor latar belakang dan pengalaman mengajar merupakan dua aspek yang mempengaruhi kompetensi profesi guru dalam mengajar. Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan, sekalipun sama dalam kemampuan mengajar, tetapi yang berlatar belakang keguruan memiliki landasan teori sehingga tindakannya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan metodologis.
3.      Peserta Didik
Peserta didik dengan segala perbedaannya seperti motivasi, minat, bakat, perhatian, harapan, latar belakang sosio cultural, tradisi keluarga, menyatu dalam sebuah system belajar di kelas. Perbedaan-perbedaan inilah yang wajib di kelola, diorganisir guru, untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal. Apabila guru tidak memiliki kecermatan dan keterampilan dalam mengelola perbedaan-perbedaan potensi peserta didik maka proses pembelajaran sulit mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Guru harus menyadari bahwa perbedaan potensi bawaan peserta didik merupakan kekuatan maha hebat untuk mengorganisasi pembelajaran yang ideal. Keragaman merupakan keserasian yang harmonis dan dinamis.
4.      Kegiatan Pembelajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah tejadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang menciptakan lingkungan belajar yang baik maka kepentingan belajar anak didik terpenuhi. Anak didik merupakan subyek belajar yang memasuki atmosfir suasana belajar yang diciptakan guru. Oleh karena itu, guru dengan gaya mengajarnya berusaha mempengaruhi gaya dan cara belajar anak didik. Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992 ) dapat dibedakan kedalam empat macam yaitu gaya mengajar klasik, gaya mengajar teknologis, gaya mengajar personalisasi dan gaya mengajar interaksional.
Gaya mengajar individual biasanya berusaha memahami anak didik sebagai makhluk individual dengan segala persamaan dan perbedaannya. Gaya mengajar kelompok berusaha memahami anak didik sebagai makhluk social dengan berbedaan gaya mengajar yang di pakai guru maka akan melahirkan kegiatan mengajar dan belajar  yang beralainan dengan hasil yang berbeda pula. Untuk hal-hal tertentu guru dianjurkan memakai gaya mengajar secara terpadu.
5.      Evaluasi
Evaluasi memiliki cakupan bukan saja pada bahan ajar, tetapi pada keseluruhan proses pembelajaran, bahkan pada alat dan bentuk evaluasi itu sendiri. Artinya, evaluasi yang dilakukan sudah benar-benar mengevaluasi tujuan yang telah ditetapkan, bahan yang diajarkan dan proses yang dilakukan.
Bahan ajar dalamkurikulum harus diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan biasanya menjadi rujukan pembuatan item-item soal evaluasi. Guru membuat perencanaan evaluasi secara sistematik dengan menggunakan alat evaluasi yang tepat. Alat evaluasi yang bisa digunakan antara lain : benar-salah (true-fals), pilihan ganda (multiple choice), menjodohkan (matching), essay dan bentuk evaluasi bisa tertulis maupun lisan.
Evaluasi yang valid (shahih) bukan saja memberikan informasi prestasi siswa dalam mencapai tujuan tetapi memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran secara keseluruhan.

C. PROGRAM PERBAIKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Tingkat keberhasilan proses pembelajaran dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya dan salah satunya adalah berhubungan dengan perbaikan proses pembelajaran, apabila tedapat indikasi kegagalan belajar, baik menyangkut seluruh pokok bahasan atau sebagiannya saja.
Proses perbaikan dapat dilakukan jika terdapat bukti-bukti otentik adanya kegagalan dalam belajar seperti :
  • Apabila 85% dari jumlah siswa mencapai tarap keberhasilan optimal atau bahkan maksimal ( mencapai 75% penguasaan materi), maka proses pembelajaran berikutnya dapat membahas pokok bahasan yang baru sehingga yang baru sehingga tak begitu penting untuk menyelenggarakan program perbaikan.
  • Apabila 75% atau lebih dari jumlah siswa yang mengikuti proses pembelajaran mencapai taraf keberhasilan kurang (dibawah taraf minimal), maka proses pembelajaran berikutnya hendaknya bersifat perbaikan  (remedial).
Pengukuran taraf atau tingkat keberhasilan proses pembelajaran ini ternyata berperan penting. Karena itu pengukurannya harus betul-betul shahih (valid), handal (reliable) dan luas berdasarkan kaidah, aturan, hokum atau ketentuan prnyusunan butir tes.
Program perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (a) mengulang pokok bahasan seluruhnya, (b) mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai, (c) memecahkan masalah atau menyelesaikan soal bersama-sama, (d) memberikan tugas-tugas khusus.

D. SIMPULAN
Untuk mendapatkan umpan balik secara lebih sempurna, maka guru dapat melakukan beberapa tehnilk antara lain : 1 menggunakan alat Bantu yang tepat 2 memilih bentuk motivasi yang baik 3 penggunaan metode yang bervariaasi.
            Sedangkan ukuran keberhasilan  belajar dalam pengertian yang operasional adalah penguasaan suatu bahan ajar yang dinyatakan (TPK) tujuan pembelajaran khusus dan memiliki kontribusi bagi tujuan diatasnya .  






0 Responses

Posting Komentar

TV GUE