PENDIDIKAN ALTERNATIF
SISTEM PENDIDIKAN ALTERNATIF

A.    PENDAHULUAN
Tidak seorangpun dilahirkan kecuali ia mempunyai fitrah, maka kedua orang tuanya yang mempengaruhi, menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Muslim dari Abu Hurairoh).

Hadits tersebut mengindikasikan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai kecenderungan-kecenderungan yang bersifat baik, yakni mengacu Asma al-Husna, dimana manusia harus selalu berusaha untuk mencapainya dengan cara mengoptimalkan seluruh anugrah kemampuan yang telah dimilikinya; indra, fikiran dan hati. Fitrah manusia bagaikan mutiara di dasar lautan yang dapat dimanfaatkan apabila manusia dapat mengeksplorasinya. Sedangkan pendidikan merupakan sarana untuk megeksplorasikan fitrah manusia tersebut. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan pernah berintraksi dan bersosialisasi dengan alam sekitarnya, karena setiap gerak manusia akan lahir dari didikan dan pengajaran alam sekitarnya.
Seperti yang kita ketahui, tujuan pendidikan Nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengemabangkan manusia Indonesia seutuhnya. Dan ini secara jelas telah dicantumkan dalam UU No. 20 tahun 2003 yang mengembangkan amanat pembukaan UUD 45. cirri-ciri manusia Indonesia seutuhnya telah dijelaskan yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Untuk membangun manusia yang berpengetahuan, tampaknya tidak banyak menghadapi masalah. Bahkan pendidikan kita saat ini lebih banyak ditekankan kepada perolehan pengetahuan. Yang  masih menjadi pertanyaan  adalah seberapa jauh pendidikan kita telah mampu mengisi tujuan dalam budi pekerti luhur, memiliki keterampilan, memiliki kepribadian dan mandiri serta memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan? Sudahkah sistem pendidikan kita mengimplementasikan tujuan tersebut? Apa yang harus dilakukan pendidikan nasional kedepan untuk lebih bersaing dengan dunia luar?

B. IDEALITAS DAN REALITAS PENDIDIKAN NASIONAL
1. Idealita
Mempersoalkan idealita pendidikan, tentunya perlu memlilih satu pendekatan tertentu, yaitu menjadi titik persoalan dari pendidikan itu sendiri. Selama ini ada beberapa pemikiran tentang pendidikan yang cenderung lebih menekankan pada masalah proses dan ada juga yang lebih menekankan pada masalah produk. Disamping itu ada juga pemikiran yang menekankan pada masalah anak, substansi pengetahuan atau kurikulum, disiplin, dan kebebasan.
Adanya berbagai macam pilihan tekanan pendidikan itu tentunya merupakan bukti adanya ragam idealita pendidikan termasuk sistem pendidikan di Indonesia. Dan dari banyaknya ragam tekanan pendidikan itu, maka dapat dibayangkan kemungkinan ragam sistem pendidikan yang diterapkan di dalam satu masyarakat.
Tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi tujuan Intrinsik dan tujuan Eksintrik.[1] Bagi bangsa kita, pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Untuk mengisi tujuan umum ini, juga dikembangkan tujuan-tujuan yang lebih pendek, yakni tujuan institusional dari setiap terminal satuan pendidikan (TK, SD, SLTP, SLTA, dan PT), tujuan kurikuler bagi setiap mata pelajaran, dan tujuan instruksional bagi setiap terjadi proses belajar mengajar.[2] Dalam pasal 3 UU No.20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS dikatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[3]
Ketercapaian tujuan umum pendidikan kita tergantung pada tercapainya pada tujuan yang lebih pendek dan daya dukung tujuan yang lebih pendek. Padahal ketercapaian tujuan yang lebih pendek itu sulit terkontrol, sehingga pada gilirannya ketercapaian tujuan umum pendidikan itu dengan mudah dapat dinilai dalam panggung pentas kehidupan masyarakat luas. Kesulitannya adalah kelompok masyarakat mana yang lebih dominan pentas dalam panggung masyarakat itu? Dengan demikian, maka kita sulit mengadakan penilaian umum atas keberhasilan pendidikan.
Berdasarkan jenjang pendidikan nasional kita, maka kedudukan satuan pendidikan diselenggarakan 1. pada tingkat Taman Kanak-kanak adalah dianjurkan, 2. pada tingkat SD dan SLTP adalah wajib, 3. pada tingkat SLTA adalah didorong, sedangkan pada tingkat 4. perguruan tinggi adalah diberi kesempatan.[4]
2. Realita.
Fenomena hasil pendidikan kita saat ini ternyata tidak cukup memuaskan, hal ini terlihat dari indikasi kemasyarakatan yang jauh dari idealitas. Cobalah lihat hasil yang menonjol dari pendidikan kita dewasa ini;
a. Pendidikan kita telah kehilangan objektivitasnya. Gejala ini dapat diperhatikan dari kenyataan sekarang, bahwa orang tua atau sistem persekolahan kita menghendaki anaknya atau siswanya medapat juara kelas atau sekolah. Mereka tidak menginginkan anaknya atau siswanya yang nantinya mampu hidup dimasanya dan mampu memecahkan masalah kehidupan untuk mempertahankan eksisitensi hidup mereka.
b. Pendidikan kita tidak mendewasakan anak. Anak hanya mendapat beban untuk mendapatkan renking, agar meraka dapat memperoleh berbagai fasilitas yang dikehendaki anak dari orang tuanya. Setaip langkah yang mengecewakan orang tua akan berakibat ia akan kehilangan hak-hak untuk memperoleh fasilitas itu.
c. Pendidikan kita tidak menumbuhkan pola berfikir.  Sistem mengajar dengan pola “Deliveri Sistem” atau sistem penyampaian menjauhkan kedudukan siswa dari bahan ajar, sehingga siswa tidak dapat berinteraksi langsung dengan bahan ajar. Interaksi langsung hanya terjadi antara guru dengan siswa melalui system penyampaian itu yang menyebabkan siswa menjadi reseptif-pasif.
d. Pendidikan kita tidak menghasilkan manusia terdidik. Apabila pendidikan kita menghasilkan manusia terdidik, maka semakin tinggi tingkat pendidikan mereka seharusnya menjadi manusia yang semakin terdidik. Keterdidikan seseorang ditunjukan oleh prilaku mereka. Dekadensi moral (Korupsi, Narkoba, tawuran masa, kriminalitas, pemerkosaan baik terhadap orang lain maupun terhadap keluarganya sendiri) yang melanda Indonesia saat ini adalah bukti nyata kegagalan pendidikan kita saat ini terutama pendidikan agama. Hal itu merupakan isyarat masih lemahnya kendali akhlak didalam diri seseorang[5].
e. Pendidikan kita terasa membelenggu. Pendidikan yang membelenggu menurut Paulo Freire ditandai oleh terjadinya transaksi  Preskriptif melalui pemberian perintah (resptur), dan Transfer pengetahuan. Sedangkan pendidikan yang berlangsung yang membebaskan dengan transaksi Dialogis dan Transformasional.[6]
f. Pendidikan kita belum mampu memenuhi tuntutan globalisasi. Kondisi masyarakat kita sejauh ini masih banyak yang  saing.
Sebenarnya sich masih banyak lagi keganjilan-keganjilan yang nampak pada hasil produk pendidikan kita selain lima diatas, seperti ungkapan Djohar MS yang mengatakan bahwa pendidikan kita tidak menghasilkan individu belajar, pendidikan kita dirasa Linier-Indoktrinatif, pendidikan kita belum menghasilkan kemandirian, dan pendidikan kita belum mampu memberdayakan dan membudayakan peserta didik.[7]
Itulah kondisi pendidikan pendidikan kita pada saat ini. Padahal, bayangin lho saat ini kita tuch lagi ngadepain yang namanya era globalisasi yang menuntut kesiapan diri secara utuh; SDM, ekonomi, Politik, juga kesiapan manajemen sosial yang Oke. Misalnya aja seperti ungkapan Tilaar bahwa salah satu ciri globalisasi adalah masyarakat mega-kompetisi 
Masyarakat yang terbuka yang tanpa batas memungkinkan kerjasama antar masyarakat dan antar bangsa. Satu bangsa tidak dapat hidup terisolasi tanpa kerjasama dengan bangsa yang lain. Dan didalam hidup bersama yan memberikan kesempatan yang sama pada kepada setiap individu, setiap kelompok, maka akanterjadi kompetisi yang sehat antar-masyarakat, antar-bangsa.[8]
           
Proses globalisasi informasi dan nilai-nilai melalui berbagai produk kemajuan tekhnologi informasi mutakhir seperti satlit komunikasi, atau Internet yanag kian terus mengglobal, atau jaringan TV dengan berbagai program terdifersifikasi-ingat CNN, MTv, Discovery Channel, HBO, yang tanpa dapat dihalangi melintasi batas-batas geografis, merupakan tanda-tanda dominasi IPTEK yang cukup jelas, dan masyarakat kita perlu untuk beradaptasi terhadap tuntutan tersebut.[9]
Nah  kalau sudah demikian, maka udah saatnya kita kudu ngaca diri, sejauh mana kesiapan kita menghadapi tantangan itu semua. Kemajuan tekhnologi, dunia tanpa batas serta transformasi budaya adalah fakta yang sedang kita hadapi saat ini yang merupakan tantangan bagi dunia pendidikan kita. Dan hal ini berkaitan dengan pengelolaan Sistem Pendidikan Nasional kita.
Seiring dengan diterapkannya otonomi daerah, maka sistem pendidikan Nasionalpun berubah dari Sentralistik menjadi desentralistik. Walaupun demikian ternyata desentralisasi pendidikan saat ini berjalan secara parsial, pusat masih mempunyai kendali yang cuku kuat; tujuan pendidikan, materi ajar, juga hasil penilaian pendidikan. (UAN). SISDIKNAS juga diselenggarakan secara diskriminatif, jauh dari apa yang ada didalamnya yaitu “setiap warga memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan menyelenggarakan usaha pendidikan”[10]. Dalam kenyataannya SISDIKNAS berjalan secara diskriminatif dan tidak demokratis, masih ada dikotomi yang jelas antara pendidikan Negri dan Swasta. Lembaga pendidikan negri dikelola oleh Pemerintah sedangkan Swasta dikelola oleh masyarakat. Sekolah swasta dikelompokan menjadi tiga kelompok; terdaftar, diakui, dan disamakan dengan sekolah negri. Perguruan N dibiayai oleh pemerintah sedangkan perguruan S dibiayai oleh masyarakat sendiri.
Seiring dengan gamabaran perlakuan diskriminatif seperti yang disebut diatas, maka sacara psikologis terkesan bahwa pendidikan adalah milik pemerintah dan bukan milik masyarakat. “semangat kebatinan atau “Jiwa pendidikan” telah lepas dari masyarakat. Mereka hanya mementingkan status formal, ijazah, dan gelar, bahkan dewasa ini banyak terjadi perdagangan gelar, jenjang, dan ijazah.[11] 

C. PENDIDIKAN  TERPADU: SEBUAH TAWARAN
Melihat gambaran sistem pendidikan nasional diatas, serta kegagalan pendidikan nasional, maka perlu kiranya kami menawarkan sebuah sisitem pendidikan alternatif yang merupakan bagian dari pembaharuan pendidikan nasional kedepan dalam rangka menghadapi tuntutan zaman. Kata kunci untuk menggambarkan sistem pendidikan nasional yang bagaimana yang diperlukan dalam abad-abad mendatang adalah pendidikan yang bermutu. Mutu bukan saja pada unsur masukan (input), tetapi juga unsur proses, terutama pada unsur keluaran (output) atau lulusan, agar dapat memuaskan harapan masyarakat pelanggan pendidikan[12].
1. Pendidikan Terpadu
pendidikan indonesia dari dulu sampai saat ini masih terkesan atau jelas-jelas berjalan secara parsial dan terpisah-pisah tanpa adanya koordinasi yang jelas dari pemerintah. Parsialisasi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan yang didirikan oleh beberapa departemen, misalnya Departemen Pertahanan mempunyai AKABRI, AKPOL, dll. Departemen Keuangan mempunyai STAN, Departemen dalam Negri mempunyai STPMD, dan Departemen Kehakiman mempunyai AKIP. Dasar pemikiran pendirian lembaga-lembaga pendidikan tersebut adalah untuk pemberdayaan sumber daya manusia masing-masing departemen. Pendirian ini berimplikasi pada kesan misskoordinasi sistem pendidikan Nasional serta menyebabkan munculnya bibit-bibit egoisme masing-masing departemen tersebut. Oleh karena itulah perlunya penyatuan visi lembaga-lembag tersebut dalam satu payung, dan inilah yang disebut pendidikan nasional terpadu.
Pendidikan nasional terpadu artinya memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mengembangkan minat, bakat, potensi, kreativitas dan keterampilan yang kemudian didukung dan diakui oleh dunia industri dan pemerintah dengan aturan hukum yang jelas dan tegas.[13] Karena sejauh ini pendidikan nasional tidak pernah bersahabat dengan dunia industri.sebagai kekuatan utama dalam pendidikan nasional, maka pendidikan nasional terpadu ini mencakup seluruh disiplin keilmuan yang berkembang saat ini. Adapun praktek pendidikan terpadu dapat digambarkan secara ringkas sebagi berikut; 
a.       adanya penyatuan payung pendidikan nasional dalam satu departemen.
b.      Pendidikan nasional terpadu secara politik merupakan strategi nasional pemerintah yang sedang berkuasa dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia untuk melepaskan diri dari ketergantungan dalam bentuk apapun dari negara lain.
c.       Politik pendidikan dalam rangka pemberdayaan seluruh masyarakat Indonesia dan penanaman moralitas merupakan sasaran dan tujuan utama pendidikan nasional terpadu.

2. Madrasah Terpadu.
Pendidikan Indonesia saat ini masih mementingkan pendidikan  yang bersifat dan beridiologi materialisme-kapitalis (secara teoritis tidak nampak). Dalam masalah kurikulum misalnya diarahkan kepada kurikulum uyang memberikan bekal kepada peserta didik untuk mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang sangat besar, dan untuk mengikutinya harus mengeluarkan uang banyak. Dan ini berdampak pada kurangnya perhatian kepada moralitas peserta didik tersebut. Oleh karena itulah diperlukannya sebuah sistem pendidikan yang mampu mengakomodir antara kebutuhan jasmani (intelektual) dan Rohani (moralitas).
Salah satu model pendidikan terpadu yang dirancang sesuai dengan visi pendidikan Islam adalah konsep madrasah terpadu. Madrasah dalam beberapa jenjang Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah pada dasarnya mengandung potensi dan kekuatan yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainya.
Konsep madrasah terpadu dikembangkan atas dasar prinsip pemikiran, antara lain;
1.                     Menerapkan pendidikan madrasah secara berkelanjutan selama 12 tahun, mulai dari Ibtidaiyah sampai dengan Aliyah .
2.                     Mewujudkan pendidikan madrasah yang memadukan mata pelajaran umum dengan mata pelajaran agama secara tuntas. Pemaduan kedua mata pelajaran itu menambah beban yang sangat berat bagi madrasah, meskipun diharapkan dapat etrcapai secara optimal.
3.                     Madrasah berorientasikan kepada pendidikan manusia seutuhnya, antara kedalaman spiritual, keagungan akhlak, kemampuan ilmu/intelektualitas dan keterampilan . Dengan prinsip ketiga ini madrasah berusaha mewujudkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan Tekhnologi dengan Iman dan Taqwa.[14]
Perwujudan madrasah terpadu menuntut adanya manajemen pada setiap madrasah yang solid dan satu sama lain saling membantu. Perencanaan kebutuhan pendidikan bagi madrasah dari berbagai jenjang dalam satu lokasi itu dapat dilakukan secara bersama. Begitu juga dalam hal kurikulum, konsep madrasah terpadu mengusahakan adanya integrasi dan penyelarasan kurikulum dari ketiga jenjang madrasah tersebut.
Kehadiran madrasah terpadu ini ditawarkan untuk saling mengisi, mengembangkan dan membatasi antara ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama. Dengan demikian akan lahirlah pribadi-pribadi yang berimbang yaitu yang menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan sekaligus manusia yang terus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa[15]. Karena salah satu faktor penyebab atau biang keladi terjadi dan berkembangnya krisis multidimensional negara Indonesia adalah masalah moralitas bangsa yang sangat “amburadul” dan tidak “karu-karuan”.[16]

D. LANGKAH-LANGKAH REFORMASI ; SITEM PENDIDIKAN ALTERNATIF.
Untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional, maka pemerintah perlu mengambil langkah-langkah pembaharuan secara substansial baik dari dalam bidang manajemen, perencanaan, sampai pada praksis pendidikan ditingkat makro. Berikut ini adalah usulan mengenai langkah-langkah reformasi pendidikan untuk masa depan.
1.                         Pendidikan nasional hendaknya memiliki visi yang berorientasi pada demokrasi bangsa sehingga memungkinkan terjadinya proses pemberdayaan seluruh komponen masyarakat secara demokratis.[17]
2.                         Pendidikan Nasional hendaknuya memiliki misi agar tercapainya partisipasi masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat menjadi terdidik.[18]
3.                         Substansi pendidikan dasar hendaknya mengacu pada pengembangan potensi dan kreativitas siswa dalam totalitasnya.
4.                         Substansi pendidikan nasional di jenjang pendidikan menengah  dan pendidikan tinggi hendakya membuka kemungkinan terjadinya Pengembangan individu secara horizontal.[19]
5.                         Pendidikan nasional hendaknya mendapatkan proporsi alokasi dana yang cukup memadai agar dapat mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan  mutu, relevansi, efisiensi, dan pemerataan.
6.                         guru harus diberdayakan secara sistematik dengan emlihat aspek-aspek antara lain; kesejahteraan, rekrutmen dan penempatan, pembinaan dan pengembangan karier dan perlindungan Profesi.[20]
7.                         perlunya penetapan model rekrutmen pejabat pendidikan secara propesional sehingga dapat memperoleh the right man in the right Place
8.                         system pendidkan nasional yang menyeimbangkan antara pendidikan sekolah dan luar sekolah.[21]
Saat ini pemerintah memiliki program pendidikan nasional yang amat strategis, yaitu peningkatan relevansi, efisiensi, dan kualitas pendidikan. Dari program itu memang bisa diyakinkan bahwa pendidikan nasional kita secara makro cukup menjanjikan bagi penyediaan sumber daya manusia yang benar-benar kompetitif. Namun demikian, pelaksanaan program itu tidak semudah rumusannya. Untuk dapat meningkatkan relevansi, eisiensi dan kualitas pendidikan, kita harus melakukan inovasi dunia pendidikan dalam arti yang luas secara terus menerus dengan langkah-langkah seperti yang diungkapkan diatas.

E. Kesimpulan.
Pendidikan nasional belum berhasil dengan memuaskan, hal ini dapat terlihat dari kondisi social masyarakat yang buruk (Korupsi, kriminalitas, kesenjangan social, dan kerusuhan antar golongan) yang menyebabkan krisis multidimensional.
Perlunya sebuah terobosan baru dalam lembaga pendidikan yang diharapkan mampu mengeluarkan bangsa Indonesia dari Krisis tersebut yaitu berupa lembaga pendidikan yang mengakomodir kebutuhan jasmani dan rohani (Intelektualitas dan Moralitas) karena krisis yang dialami bangsa Indonesia menurut para pakar pendidikan akibat moralitas bangsa yang bobrok.
Perlunya pembaharuan dalam sisitem pendidikan nasional yang meliputi manajemen, kurikulum, tenaga pendidik sarana dan prasarana, dana, dll. Yang menjadi sebuah  sisitem pendidikan alternatif.




REFERENSI

Djohar MS, Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia (Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, 1999)

___________, Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan (Yogyakarta; LESFI, 2003)

Friere, Paulo. Politik Pendidikan, Kebudayaan, dan Pembebasan. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arief Fudiyartanto (Yogyakarta; READ dan Pustaka Pelajar, 1999)

Hariyandi, Ahmad dan Ahmad Kosasih, Pendidikan sebagai media Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (Makalah : Politik Pendidikan Nasional).

H.A.R Tilaar Membenahi Pendidikan Nasional (Jakarta; Rineka Cipta, 2002)

______________ Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam perspektif Abad 21 (Magelang; Indonesia Tera, 1999)

Jalal, Fasli dan Dedi Supriadi (Editor) Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, (Yogyakarta; Adicita Karya Nusa, 2001)

Ki Supriyoko, Politik Pendidikan Nasional dari Dimensi Tujuan (bahan kuliah sesi ke-2) Makalah.

Mastuhu, menata ulang pemikiran system pendidikan Nasional dalam abad 21 (Yogyakarta; MSI UII & Safira Insania Press, 2003)

Muhammad AR. Pendidikan di Alaf Baru, Rekonstruksi atas Moralitas Pendidkan (Yogyakarta; PrismaSophie, 2002), 33.

Rahim, Husni Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta; Logos Wacana Ilmu, 2001)

Syafrudin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Konsep, Strategi, dan Aplikasi (Jakarta; Grasindo, 2002)

Suyanto dan Jihad Hisyam, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki  melenium III (Yogyakarta: Adicita, 2000).

Undanag-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional






[1] Tujuan intrinsik adalah untuk mendewasakan anak (berpikir, bersikap, berprilaku dan bahkan dewasa dalam mengendalikan diri), sedangkan tujuan eksintrik adalah pendidikan sesuai dengan kepentingan masyarakat itu sendiri.
[2] Djohar MS, Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia (Yogyakarta:IKIP Yogyakarta, 1999), hlm.167
[3] seperti yang teraungkap dalam makalah Ki Supriyoko, Politik Pendidikan Nasional dari Dimensi Tujuan (bahan kuliah sesi ke-2)
[4] Djohar MS, Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia (Yogyakarta:IKIP Yogyakarta, 1999), hlm. 168
[5] Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta; Logos Wacana Ilmu, 2001), 37.
[6] Paulo Friere. Politik Pendidikan, Kebudayaan, dan Pembebasan. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arief Fudiyartanto (Yogyakarta; READ dan Pustaka Pelajar, 1999), 167.
[7] Djohar MS. Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan (Yogyakarta; LESFI, 2003), hlm. 8-10.
[8] H.A.R Tilaar Membenahi Pendidikan Nasional (Jakarta; Rineka Cipta, 2002),  hlm.3
[9] Ahmad Hariyandi dan Ahmad Kosasih, Pendidikan sebagai media Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (Makalah : Politik Pendidikan Nasional), 5
[10] lihat Undanag-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5, 6, 7, 8 dan 47.
[11] Mastuhu, menata ulang pemikiran system pendidikan Nasional dalam abad 21 (Yogyakarta; MSI UII & Safira Insania Press, 2003), 33.
[12] Syafrudin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Konsep, Strategi, dan Aplikasi (Jakarta; Grasindo, 2002), 19.
[13] Ainurrofiq Dawam “Kata Pengantar” dalam Muhammad AR. Pendidikan di Alaf Baru, Rekonstruksi atas Moralitas Pendidkan (Yogyakarta; PrismaSophie, 2002), 33.
[14] Rahim, Arah Baru…20.
[15] H.A.R. Tilaar. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam perspektif Abad 21 (Magelang; Indonesia Tera, 1999), 201.
[16] Dawam,  Pendidikan .., 20.
[17] Mastuhu, Menata.., 84.
[18] Suyanto dan Jihad Hisyam, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki  melenium III (Yogyakarta: Adicita, 2000), 8.
[19] Djohar, Reformasi… 178.
[20] Lihat  Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (Editor) Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, (Yogyakarta; Adicita Karya Nusa, 2001), 219-224
[21] Djohar, Pendidikan.., 84.
inovasi pembelajaran

TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK KEBERHASILAN 
DAN PERBAIKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN



A. PENDAHULUAN
Membentuk manusia berkualitas tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Memang langkah yang paling tepat dalam membentuk manusia berkualitas adalah melalui jalur pendidikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan sangat penting bagi ikhtiar membangun manusia berkualitas yang ditandai dengan peningkatan kecerdasan, pengetahuan dan ketrampilan. Pendidikan juga mempunyai peranan sentral dalam mendorong individu dan masyarakat untuk mencapai kemajuan pada semua aspek kehidupan dan akhirnya akan dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan suatu bangsa sebagai salah satu investasi yang tidak ternilai. Kita mengakui bahwa pendidikan akan dapat menciptakan manusia kerkualitas, namun yang menjadi pertanyaannya adalah pendidikan yang bagaimana yang dapat membentuk manusia berkualitas?, apakah pendidikan yang hanya berorientasi pada formalitas yang dapat menjawabnya, atau pendidikan yang tidak hanya sekedar formalitas.
Kunci keberhsilan pendidikan salah satunya adalah terletak pada kemampuan mengajar seorang guru. Kegiatan pembelajaran merupakan interaksi antara guru dan siswa, oleh karena itu seorang guru di tuntut untuk menguasai berbagai tekhnik pembelajaran yang efektif. Salah satunya adalah teknik mendapatkan umpan balik dari siswa, serta kemampuan mengukur sejauhmana keberhasilan guru dalam proses pembelajaran serta mengetahui cara perbaikannya bila ada hal-hal yang dianggap kurang sesuai dengan rencana pembelajaran. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah cara melakukan teknik mendapatkan umpan balik?, sejauhmanakah keberhasilan pembelajaran? Dan Bagaimanakah melaksanakan program perbaikan dalam proses pembelajaran?

B. TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK  DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi antara guru dan murid untuk mencapai tujuan. Suatu tujuan pembelajaran yang terjadi karena usaha guru, sering dinamakan instructional effect, biasanya berupa pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan tujuan yang merupakan pengirirng karena usaha atau potensi murid, seperti faktor kecerdasan, berfikir kritis dan kreatif, disebut nurturant effect. Kegiatan dua fihak tersebut memberikan umpan balik, bagi guru maupun bagi murid. Umpan balik yang diberikan oleh murid selama pembelajaran ternyata sangat beragam, baik kuantitas maupun kualitasnya, tergantung dari rangsangan yang diberikan oleh guru.
Segala potensi yang dimiliki anak, baik secara individual maupun kelompok, perbedaan latar belakang sosio-kultural, cara belajar anak dan pengetahuan awal yang dimiliki anak, merupakan informasi yang dapat memberikan umpan balik bagi guru. Jadi pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan bisa dijadikan bahan apresiasi bagi guru untuk menghubungkan materi berikutnya dan dijadikan alat memotivasi anak untuk memperhatikan bahan lanjutan. Maka usaha demikian merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam proses pembelajaran. Untuk mendapatkan umpan balik secara lebih sempurn, maka guru dapat melakukan beberapa teknik antara lain :
Pertama, menggunakan alat bantu yang tepat. Alat ini berfungsi untuk melengkapi kekurangan guru yang memiliki keterbatasan kemampuan dalam menjelaskan bahan ajar yang disebabkan karakteristik materi, kebiasaan guru dan cara belajar anak didik. Guru yang menyadari kelemahan dirinya dalam menjelaskan isi dari bahan pelajaran yang disampaikan sebaiknya memanfaatkan alat bantu untuk memperjelas isi dari bahan yang menyangkut fakta, konsep, atau prinsip yang kurang dapat dijelaskan lewat kata-kata atau kalimat dalam metode ceramah. Dengan begitu, kelemahan metode ceramah dapat teratasi oleh penggnaan alat Bantu yang cocok untuk mengkonkritkan masalah rumit dan kompleks menjadi seolah-olah sederhana.
Kedua,  memilih bentuk motivasi yang baik. Menurut Bobbi dePorte dkk (2000) terdapat beberapa cara untuk menumbuhkan budaya belajar berprestasi, dalam rumus TANDUR, yakni :
Ø  Tumbuhan. Tumbuhkan minat dengan memuaskan. Apa manfaatnya bagiku dan manfaatkan kehidupan siswa.
Ø  Alami. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa ;
Ø  Namai. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, dalam setiap kegiatan pembelajaran;
Ø  Demontrasikan. Sediakan kesempatan bagi anak didik untuk menunjukkan bahwa mereka tahu, jangan biarkan anak menjadi pendengar pasif ;
Ø  Ulangi. Tunjukkan pada anak didik cara-cara mengulang materi dan tegaskan bahwa mereka adalah murid-murid yang cerdas, jangan dikecam. Sebab kecaman guru merupakan proses pembodohan yang terjadi secara disengaja;
Ø  Rayakan. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Guru jangan kikir dengan pujian anak.
Ø  Mempertahankan minat dan motivasi anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan bisa dalam bentuk lain seperti :
·         Memberikan angka. Angka merupakan symbol prestsi yang diperoleh siswa.
·         Beri penjelasan pada anak bahwa prestasi belajar dapat terpresentasikan dalam       symbol angka.
·         Hadiah. Hadiah merupakan pengakuan atas prestasi anak didik yang dapat diberikan dalam bentuk fisik ( cinderamata, piagam ) atau non-fisik seperti isyarat positif, pujian dll.
·         Gerakan tubuh. Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaikkan tangan dan lain-lain.
·         Memberi tugas. Tugas yang diberikan bukan tugas tambahan, tetapi tugas pengakuan atas prestasi agar anak didik merasa percaya diri dan merasa diakui.
·         Memberi ulangan. Ulangan merupakan alat untuk menunjukkan prestasi belajar anak didik dan sebaiknya hasil ulangannya diumumkan pada teman-temannya.
·         Hukuman. Hukuman bukan alat untuk menakut-nakuti anak, tetapi untuk merubah cara berfikir anak. Bahwa setiap pekerjaan (baik atau buruk) memiliki konsekuensi.
Ketiga, penggunaan metode yang bervariasi merupakan senjata yang ampuh untuk mendapatkan umpan balik pembelajaran. Karean itu, guru mesti cerdas memilih, menentukan dan menggunakan metode dalam pembelajaran. Jangan menggunakan satu netode untuk semua tujuan atau memakai banyak metode tanpa tujuan. Pergunakan metode secara tepat.

C. KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN
Belajar merupakan proses aktivitas yangmemiliki keterukuran secara jelas. Ukuran keberhasilan belajar dalam pengertian yang operasional adalah penguasaan suatu bahan ajar yang dinyatakan (TPK) tujuan pembelajaran khusus dan memiliki kontribusi bagi tujuan diatasnya.
  1. Indikator Keberhasilan Proses Pembelajaran.
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses pembelajaran merupakan sebuah ukuran atas proses pembelajaran. Apabila merujuk pada rumusan operasional keberhasilan belajar, maka belajar di-katakan berhasil apabila diikuti cirri-ciri : (1) Daya serap terhadap bahan pembelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok; (2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran khusus ( TPK ) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok; (3) Terjadinya proses pemahaman meteri yang secara sekuensial  mengantarkan materi tahap berikutnya.
   Ketiga cirri keberhasilan belajar diatas, bukanlah semata-mata keberhasilan dari segi kognitif, tetapi mesti melumat aspek-aspek lain, seperti aspek afektif dan aspek psikomotor. Pengevaluasian salah satu aspek saja akan menyebabkan proses pembelajaran kurang memiliki makna yang komprehensif.
  1. Alat penilaian Keberhasilan Proses Pembelajaran.
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat dilakukan melalui test prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan pada beberapa jenis penilaian, yakni : tes formatif, sub sumatif dan sumatif.
Tes formatif. Tes formatif digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki proses pembelajaran  pada bahan tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
Tes sub-sumatif, tes sub-sumatif meliputi sejumlah bahan pelajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa agar meningkatkan hasil prestasi belajar siswa. Hasil tes sub-sumatif dapat dimanfaatkanuntuk memperbaiki proses pembelajaran dan diperhitungkan dalam menentukan nilai raport.
Tes sumatif. Tes sumatif diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu smester, satu atau dua tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau tarap keberhasilan belajar siswa dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat atau sebagai ukuran mutu sekolah.
  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Proses Pembelajaran
Keberhasilan belajar bukanlah yang berdiri sendiri, melainkan banyak yang di pengaruhi oleh factor-faktor lainnya. Berbagai factor dimaksud diantaranya adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pembelajaran dan evaluasi.
1.      Tujuan
Tujuan merupakan muara dan pangkal dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, tujuan menjadi pedoman arah dan sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan proses pembelajaran. Kepastian proses pembelajaran berpangkal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pembelajaran. Semakin jelas operasional dan tujuan yang akan dicapai, maka semakin mudah menentukan alat dan cara mencapainya, dan sebaliknya. 
2.      Guru
Performance guru dalam membelajarkan siswa banyak dipengaruhi berbagai factor seperti tipe kepribadian, latar belakang pendidikan, pengalaman, dan yang tek kalah pentingnya berkaitan demgan pandangan filosofis guru terhadap murid. Pandangan guru terhadap anak didik mempengaruhi kegiatan mengajar guru di kelas. Guru yang memandang anak didik sebagai makhluk individual yang tidak memiliki kemampuan atau laksanan kertas kosong akan banyak menggunakan metode yang teacher centered, bukan pendekatan yang student centered.  Sebab, murid dipandangnya sebagai gelas kosong yang bisa diisi apapun. Pendekatan ini sering disebut sebagai proses  pouring in, penuangan terhadap sesuatu denga segala sesuatu. Padahal yang terpenting bagi guru adalah mengetahui anak didik dengan segala potensi dan kekuatannya sehingga guru cukup melakukan proses drawing out, yakni proses mengeluarkan, membimbing, memotivasi keluarnya berbagai potensi yang ada pada anak didik menjadi kekuatan belajar dan faktual. Demikian pula factor latar belakang dan pengalaman mengajar merupakan dua aspek yang mempengaruhi kompetensi profesi guru dalam mengajar. Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan, sekalipun sama dalam kemampuan mengajar, tetapi yang berlatar belakang keguruan memiliki landasan teori sehingga tindakannya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan metodologis.
3.      Peserta Didik
Peserta didik dengan segala perbedaannya seperti motivasi, minat, bakat, perhatian, harapan, latar belakang sosio cultural, tradisi keluarga, menyatu dalam sebuah system belajar di kelas. Perbedaan-perbedaan inilah yang wajib di kelola, diorganisir guru, untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal. Apabila guru tidak memiliki kecermatan dan keterampilan dalam mengelola perbedaan-perbedaan potensi peserta didik maka proses pembelajaran sulit mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Guru harus menyadari bahwa perbedaan potensi bawaan peserta didik merupakan kekuatan maha hebat untuk mengorganisasi pembelajaran yang ideal. Keragaman merupakan keserasian yang harmonis dan dinamis.
4.      Kegiatan Pembelajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah tejadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang menciptakan lingkungan belajar yang baik maka kepentingan belajar anak didik terpenuhi. Anak didik merupakan subyek belajar yang memasuki atmosfir suasana belajar yang diciptakan guru. Oleh karena itu, guru dengan gaya mengajarnya berusaha mempengaruhi gaya dan cara belajar anak didik. Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992 ) dapat dibedakan kedalam empat macam yaitu gaya mengajar klasik, gaya mengajar teknologis, gaya mengajar personalisasi dan gaya mengajar interaksional.
Gaya mengajar individual biasanya berusaha memahami anak didik sebagai makhluk individual dengan segala persamaan dan perbedaannya. Gaya mengajar kelompok berusaha memahami anak didik sebagai makhluk social dengan berbedaan gaya mengajar yang di pakai guru maka akan melahirkan kegiatan mengajar dan belajar  yang beralainan dengan hasil yang berbeda pula. Untuk hal-hal tertentu guru dianjurkan memakai gaya mengajar secara terpadu.
5.      Evaluasi
Evaluasi memiliki cakupan bukan saja pada bahan ajar, tetapi pada keseluruhan proses pembelajaran, bahkan pada alat dan bentuk evaluasi itu sendiri. Artinya, evaluasi yang dilakukan sudah benar-benar mengevaluasi tujuan yang telah ditetapkan, bahan yang diajarkan dan proses yang dilakukan.
Bahan ajar dalamkurikulum harus diselesaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan biasanya menjadi rujukan pembuatan item-item soal evaluasi. Guru membuat perencanaan evaluasi secara sistematik dengan menggunakan alat evaluasi yang tepat. Alat evaluasi yang bisa digunakan antara lain : benar-salah (true-fals), pilihan ganda (multiple choice), menjodohkan (matching), essay dan bentuk evaluasi bisa tertulis maupun lisan.
Evaluasi yang valid (shahih) bukan saja memberikan informasi prestasi siswa dalam mencapai tujuan tetapi memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran secara keseluruhan.

C. PROGRAM PERBAIKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Tingkat keberhasilan proses pembelajaran dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya dan salah satunya adalah berhubungan dengan perbaikan proses pembelajaran, apabila tedapat indikasi kegagalan belajar, baik menyangkut seluruh pokok bahasan atau sebagiannya saja.
Proses perbaikan dapat dilakukan jika terdapat bukti-bukti otentik adanya kegagalan dalam belajar seperti :
  • Apabila 85% dari jumlah siswa mencapai tarap keberhasilan optimal atau bahkan maksimal ( mencapai 75% penguasaan materi), maka proses pembelajaran berikutnya dapat membahas pokok bahasan yang baru sehingga yang baru sehingga tak begitu penting untuk menyelenggarakan program perbaikan.
  • Apabila 75% atau lebih dari jumlah siswa yang mengikuti proses pembelajaran mencapai taraf keberhasilan kurang (dibawah taraf minimal), maka proses pembelajaran berikutnya hendaknya bersifat perbaikan  (remedial).
Pengukuran taraf atau tingkat keberhasilan proses pembelajaran ini ternyata berperan penting. Karena itu pengukurannya harus betul-betul shahih (valid), handal (reliable) dan luas berdasarkan kaidah, aturan, hokum atau ketentuan prnyusunan butir tes.
Program perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (a) mengulang pokok bahasan seluruhnya, (b) mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai, (c) memecahkan masalah atau menyelesaikan soal bersama-sama, (d) memberikan tugas-tugas khusus.

D. SIMPULAN
Untuk mendapatkan umpan balik secara lebih sempurna, maka guru dapat melakukan beberapa tehnilk antara lain : 1 menggunakan alat Bantu yang tepat 2 memilih bentuk motivasi yang baik 3 penggunaan metode yang bervariaasi.
            Sedangkan ukuran keberhasilan  belajar dalam pengertian yang operasional adalah penguasaan suatu bahan ajar yang dinyatakan (TPK) tujuan pembelajaran khusus dan memiliki kontribusi bagi tujuan diatasnya .  






TV GUE